STAR-NEWS.ID Bisnis – Terletak di dataran tinggi sekitar 900-1500 mdpl, Desa Kintamani, Kabupaten Bangli merupakan daerah penghasil kopi Arabika terbesar di Pulau Bali. Melalui Kementerian Koperasi RI, kopi Arabika yang berasal dari Kintamani telah menembus ekspor ke pasar dunia.
PT Koop Kopi Indonesia memfasilitasi petani kopi arabika Kintamani dengan Starbucks Trading Company. Ekspor kopi Kintamani itu sudah berlangsung sejak tahun 2018.
Untuk membangun peluang secara luas kepada petani kopi, Kementerian Koperasi yang membawahi PT Koop Kopi Indonesia, mengembangkannya kembali menjadi sebuah hub perdagangan ekspor kopi.
Tenaga Ahli Deputi Pemberdayaan Usaha Koperasi Jarot Trisunu mengatakan, lewat ekosistem rantai pasok yang telah dibangun, kopi arabika Batur Kintamani dapat dinikmati setidaknya di 11 negara.
“Dengan sistem koperasi ini nantinya akan ada pembagian keuntungan usaha yang adil dan lebih banyak petani kopi arabika Kintamani Bali dan terhubung dengan KDMP di sektor kopi,” kata Jarot di Denpasar, Kamis, 9 April 2026.
Menurutnya, pembentukan Koperasi Bali Lestari yang digagas saat ini, akan terhubung dengan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKM). Wadah petani kopi di kawasan Batur itu digunakan untuk memecah kebuntuan pemasaran di tingkat global.
Dengan demikian, para petani tersebut dapat mengoptimalkan kapasitas produksi hingga pemasaran. Diharapkan mereka juga punya jaringan buyer yang lebih luas.
“Sehingga para petani ini akan mendapatkan nilai tambah dengan koperasi yang dibentuk saat ini. Selain itu, para petani juga dapat mempertahankan historical nilai kopi arabika dari Batur, Kintamani,” ujarnya.
CEO Koop Kopi Indonesia Reza Fabianus mengatakan, kebutuhan kopi arabika Kintamani untuk konsumsi global cukup besar. Untuk jaringan pemasaran Starbucks Trading Company saja dikatakan, mampu menyerap 10 kontainer dalam sekali musim panen.
Meskipun, fakta yang ada kebutuhannya bisa lebih besar dari itu, mencapai 30 kontainer dalam satu tahun.
“Dengan adanya koperasi ini kita proyeksikan mampu menyuplai permintaan hampir seratus kontainer, itu bisa dipenuhi. Sedangkan di, usaha yang ssaat ini sudah bergerak itu, Starbucks, mintanya sudah lebih dari sepuluh kontainer,” kata Reza.
Dijelaskan, saat ini, para petani kopi cenderung berdiri sendiri mengumpulkan hasil panennya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dengan adanya Koperasi, nantinya para petani bukan saja mampu memenuhi kuantitas tapi kualitasnya juga akan terjaga.
“Jadi Koperasi yang kita inisiasi ini akan terhubung dengan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih yang bergerak di sektor kopi,” kata Reza.
Sementara itu, Asisten Deputi Pemetaan Potensi Usaha pada Deputi Pengembangan Usaha, Lely Hiswendari mengatakan, koperasi yang alan menjadi hub perdagangan kopi Arabika Kintamani itu merupakan salah satu usaha untuk menggerakkan koperasi merah putih yang sudah terbentuk berdasarkan atas komoditas dari masing-masing daerah.
“Karena memang apa yang bisa diusahakan, ya itu tadi, kita harus melihat lagi terutama komoditas utama dari daerah tersebut,” jelas Lely.







