Pameran Divergent Mind, Pengakuan Rommy Sukadana tentang Otoritas Tanpa Linier terhadap Karya yang Dihasilkan

STAR-NEWS ID Seni – Perubahan pada setiap karya seni milik seniman asal Denpasar I Made Rommy Sukadana ditampilkan dalam pameran tunggalnya di Santrian Art Gallery Sanur pada 9 Januari hingga 28 Februari 2026.

Dengan mengusung tema Divergent Mind, 24 karya seni tanpa linier itu merupakan pengakuan Rommy terhadap hasil karyanya yang selalu berubah.

“Artinya setiap karya saya itu tidak tergantung sama tema, tidak ada linier. Jadi mengalir saja. Untuk itu dari pengalaman saya melukis selama ini, untuk pameran itu saya mengakui bahwa memang saya berkarya itu berubah- ubah baik dari segi tema, teknik atau pun media,” jelas Rommy di Santrian Art Gallery Sanur, Jumat, 9 Januari 2026.

Rommy menjelaskan, tujuan mengadakan pameran tunggal juga sebagai pengakuan terhadap dirinya yang memiliki pandangan terhadap seni, bahwa seniman itu mempunyai otoritas penuh terhadap karya yang akan dihasilkanya tanpa peduli dengan apa yang seniman itu perbuat sebelumnya.

“Artinya berekaperimen dengab teknik baru, atau apa pun itu,” imbuhnya.

Kecenderungan perubahan seperti abstraksi tetap berpijak pada realistis maupun realis yang dirubah dengan kesan tidak realis, seperti karya Eksotik Bali, yang mengangkat figur Monalisa yang mengenakan pakaian Bali dalam goresanya.

“Karena saya ibaratkan di seni rupa Monalisa itu banyak yang kenal termasuk kalau dibawa ke Eksotik Bali juga banyak yang kenal. Makanya saya ambil figur Monalisa pakai pakaian Bali,” kata Rommy.

Tak hanya itu, karya seni rupa yang mengangkat sketsa sosok monyet berlatar koran yang merupakan hasil karyanya pada tahun 2003 menjelang pemilu 2004 menjadi simbol setiap karya yang dihasilkan dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan dan membawanya ke kancah internasional.

“Perubahan dilakukan secara spontan tanpa fase karena ide selalu ada. Kadang melukis belum selesai ada ide baru, saya tinggal itu dan saya bikin dengan teknik yang berbeda. Sosok monyet dengan sket dan berlatar koran saat pemilu 2004 saya tulis wanted a super hero for Indonesia saat ini dikoleksi oleh Well Cultural Museum Jerman,” jelasnya.

Kurator pameran Divergent Mind I Made Susanta Dwitanaya mengatakan, setiap karya Rommy yang dihadirkan memiliki kecenderungan yang berbeda.

Menurutnya, Rommy secara tidak sadar menolak kelaziman sejarah seni yang nenggunakan konsep atau tema secara linier dengan karakter.

Karya yang dihasilkan Rommy memeliki kecenderungan yang berbeda antara satu karya dengan karya lainnya, tidak menunjukan kesatuan secara tematik bahkan secara asttistik pun berbeda.

“Ada karya yang sangat mnghadirkan siluet, ada yang realistik, ada yang sifatnya surial, ada yang sangat kartunal dan karikartunal, jadi berbagai kecenderungan itulah yang mencerminkan Rommy, dan secara sadar menghadirkan itu sebagai bentuk kemerdekaanya sebagai seorang seniman ada otonomi penuh dalam menghadirkan apa pun,” kata Made Susanta.

Follow and share Google News