STAR-NEWS.ID Inspirasi – Coop Coffee Foundation di bawah bendera program donor dan peningkatan kapasitas petani kopi lewat pemberdayaan koperasi oleh Kementerian Koperasi dan UMKM, telah fokus pada program Coffee, Carbon & Climate yang menyasar Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI).
Upaya ini dilakukan dengan pendekatan pembangunan yang menekankan keterhubungan tiga konsep utama, yakni kesetaraan gender termasuk peran pemuda, kemudian perhatian pada disabilitas dan inklusi sosial.
Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation Sascha Poespo mengatakan, program pembelajaran eksklusif dalam pengembangan usaha kopi menyasar penyandang disabilitas khususnya tuna netra, tuli, taksa, penyintas skizofernia, petani kopi dan kaum perempuan sebagai bagian dari komitmen GEDSI dalam rantai pasok kopi.
“Melalui program TEMAN Kopi kami Coop Coffee Foundation bersama Dinas Sosial kota Denpasar dan Rumah Berdaya Kota Denpasar serta Yayasan Corti mengadakan training pemahaman rantai pasok kopi bersama Starbucks Indonesia hingga pelatihan pemanfaatan ampas kopi untuk tujuan ekonomi sirkuler,” jelas Sascha Poespo di Bali, Jumat, 6 Maret 2026.
Sascha Poespo menjelaskan, program ini merupakan rangkaian dari komitmen Coop Coffee Foundation pada pembagian pohon kopi siap tanam bagi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Kintamani Bali, sejak Januari hingga Maret 2026.
“Ini guna mencapai 100 ribu penanaman pohon kopi varietas B-1 kopyol di area Kintamani,” jelasnya.
Pengembangan Usaha Koperasi Desa Merah Putih Kementerian Koperasi dan UMKM Reza Fabianus mengatakan, selain melaksanakan program pemberdayaan petani kopi, Kementerian Koperasi melalui KDMP juga mendoromg generasi muda, disabilitas dan inklusi sosial dalam pelatihan pengembangan usaha kopi.
“Nah, hari ini bersama komitmen Starbucks, kita juga mendorong mereka untuk mendapatkan pelatihan, baik itu pelatihan barista kopi dan juga bersama Pertamina. Ini karena salah satu Direktur Pertamina Patra Niaga juga adalah Deputi kami, berkomitmen membina para penyentas namanya penyintas, maaf penyintas skizofrenia untuk mengolah ampas kopi yang selama ini ampas kopi itu dibuang begitu saja, ini bisa diolah menjadi dupa,” jelas Reza.
Reza berharap, desa-desa di Bali yang mempunyai produk unggulan kopi bisa terbuka jaringannya untuk ekspor kopi dan juga memberdayakan kelompok GEDSi.
“Kadang-kadang kan semuanya pria, semuanya anak-anak muda saja. Nah, yang wanita dan yang disabilitas juga kita libatkan,” ujarnya.
Senelumnya Coop Coffee Foundation bersama United In Diversity (UID) Foundation juga mengadakan program pembelajaran ekslusif Youth, Coffee and Climate yang menyasar generasi muda, khususnya gen-z, dalam memasarkan kopi berbasis teknologi digital.
Sementara itu, Deputi Pengembangan Usaha Kemenkop RI Lely Hiswendari mengatakan, Kementerian Koperasi mendukung program pemberdayaan terhadap disabilitas dan kaum perempuan melalui KDMP terutama di Desa Kintamani.
“Saya harapkan kegiatan-kegiatan seperti ini juga dapat lebih diperhatikan dan dapat lebih diperbanyak lagi sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat desa dan juga kaum – kaum disabilitas dan juga tentunya untuk pengembangan dari pemberdayaan wanita,” ujar Lely.






