Fab Lab Kembangkan Teknologi Sensor Kualitas Udara di Bali Berbasis Smart Citizen

STAR-NEWS.ID Teknologi – Pulau Bali yang merupakan daerah wisata, dikenal dengan pulau yang bersih dan nyaman bagi wisatawan. Akan tetapi, asap pembakaran sampah belakangan menjadikan kualitas udara di Pulau Seribu Pura ini memburuk.

Untuk memantau kualitas udara, yang berfokus pada dampak asap pembakaran sampah, Fab Lab Bali mengembangkan inovasi teknologi berupa sensor kualitas udara DIY berbasis open hardware.

Founding Partner Meaningful Design Group Thomas Diez mengatakan, di Provinsi Bali hanya memiliki satu sensor resmi milik pemerintah yang digunakan untuk mengukur kualitas udara di satu lokasi.

“Hanya satu sensor resmi di Bali yang mengukur kualitas udara di satu lokasi, jadi itu tidak mungkin untuk memahami seluruh Bali, jadi kamu butuh banyak sensor yang lebih murah yang dipasang oleh masyarakat untuk mencakup area yang lebih luas,” kata Thomas Diez dalam acara Lokakarya Sense The Air We Share saat Pekan Iklim Bali di Denpasar, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Untuk itu, Fab Lab mengembangkan inovasi teknologi sensor kualitas udara di Bali yang mengadaptasi teknologi Smart Citizen.

Sensor kualitas udara yang secara komersial umumnya terlalu mahal, dikembangkan oleh tim Fab Lab menjadi lebih murah dan terjangkau, agar warga lokal atau bisnis bisa memasang sensor untuk memantau kualitas udara, sehingga bisa menghentikan pembakaran sampah.

” Jadi sekarang kamu bisa mengakses peta lengkap Bali yang memiliki cakupan jauh lebih luas dari pada yang pernah dicakup pemerintah sebelumnya, jadi itulah semua pekerjaan yang sedang kami coba lakukan,” ucapnya.

Lokakarya Sense The Air We Share pada Pekan Iklim Bali 2026, mengajak pengunjung festival merakit dan mencoba sensor kualitas udara berbiaya rendah berbasis open hardware yang dikembangkan Fab Lab Bali untuk
memantau udara.

Design and Innovation Manager Fab Lab Bali Tafia Sabila mengatakan, dalam lokakarya ini, peserta berkenalan dengan sensor PM2.5 dan merakit sensor kualitas udara DIY berbasis open hardware.

Peserta juga menjajaki cara memadukan data sensor dengan pengamatan warga, untuk membaca kondisi udara dan memantau dampak
emisi di tingkat komunitas.

Inisiatif ini mengintegrasikan pembacaan sensor kualitas udara milik warga dari berbagai produsen ke dalam platform visualisasi data dan pelaporan.

Hingga 30 September 2026, jaringan ini memiliki 57 stasiun PM2.5 warga yang aktif di 11 wilayah Bali, termasuk mode buatan Fab Lab Bali. Sejak Mei 2026, jaringan ini juga telah menerima 297 laporan warga terkait pembakaran sampah.

“Lokakarya ini merupakan bagian dari Desa Utak Atik, proyek multi-tahun yang memadukan riset
terapan teknologi dengan pengembangan komunitas lokal melalui sistem banjar,” kata Tafia.

Follow and share Google News