STAR-NEWS.ID Ekonomi – Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Bali akan menguat pada triwulan 1 di 2026 yang didorong oleh adanya Hari Keagamaan Besar Nasional seperti Imlek, Nyepi, Ramadhan dan Idul Fitri.
“Pada triwulan I 2026 terdapat momentum HBKN Imlek, Nyepi, dan Ramadan dan Idul Fitri yang dapat turut mendorong pertumbuhan ekonomi Bali,” jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja pada Jumat, 6 Februari 2026.
Bank Indonesia juga memprakirakan perekonomian Bali akan tetap tumbuh kuat pada triwulan I 2026 seiring dengan optimisme konsumen yang tetap terjaga, realisasi investasi yang terus berlanjut dan pertumbuhan sektor pariwisata.
Sementara dari sisi pariwisata, peningkatan penerbangan internasional dan kegiatan MICE, serta penambahan akomodasi pariwisata baru turut mendorong peningkatan kunjungan wisata.
Dari sektor pertanian, kebijakan penurunan HET pupuk subsidi, penggunaan bibit unggul, dan iklim yang lebih baik berpotensi menghasilkan hasil pertanian yang lebih tinggi.
“Selain itu, masih kuat nya konstruksi proyek swasta terutama terkait pariwisata dapat turut mendorong pertumbuhan ekonomi Bali,” imbuhnya.
Sementara itu, berdasarkan Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, perekonomian Bali pada Triwulan IV 2025 tumbuh kuat sebesar 5,86% (yoy). Capaian tersebut berada di atas nasional (5,39% yoy).
Dengan realisasi ini, Bali menjadi salah satu provinsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.
Sepanjang tahun 2025, ekonomi Bali tumbuh tinggi pada 5, 82% (yoy), lebih tinggi dari nasional (5,11% yoy).
Kondisi ini menunjukkan kinerja ekonomi Bali yang tetap kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika ketidakpastian ekonomi global.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh menguat sebesar 5,85% (yoy) dipengaruhi oleh pengeluaran transportasi, rekreasi dan budaya, serta penginapan dan hotel sejalan dengan aktivitas pariwisata yang lebih tinggi.
Konsumsi pemerintah meningkat 10,73% (yoy) seiring peningkatan belanja pegawai serta belanja bantuan sosial baik dari APBN maupun APBD.
Sedangkan investasi (PMTB) tumbuh 5,47% (yoy) terutama pada subkomponen PMTB bangunan didukung peningkatan realisasi investasi PMA dan PMDN.
Sementara itu, ekspor luar negeri tumbuh 5,43 % (yoy) seiring ekspor jasa oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara.
Dari sisi lapangan usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Bali yang kuat d idorong pertumbuhan semua LU.
Pertumbuhan ekonomi tertinggi terdapat pada LU Akomodasi dan Makan Minum yang tumbuh sebesar 8,90 % (yoy) , didukung peningkatan kunjungan wisatawan .
Selanjutnya, LU Perdagangan tumbuh sebesar 5,97% (yoy), yang tercermin dari peningkatan aktivitas wisatawan dan perdagangan bahan baku konstruksi. Kemudian, LU Transportasi dan Pergudangan tumbuh 5,53%, didorong tingginya kunjungan wisatawan khususnya di Bandara I Gusti Ngurah Rai.
LU Konstruksi juga tumbuh 2,84% (yoy), sejalan dengan realisasi investasi. Berikutnya, LU Pertanian tumbuh 0,25 % (yoy) didorong oleh subsektor perkebunan (kelapa dan kakao) dan peternakan (telur ayam, daging ayam, dan daging sapi)
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan, Bank Indonesia merekomendasikan 5 strategi utama ‘Panca Kerthi dan bersinergi dengan pemerintah, pelaku ekonomi, dan pemangku kepentingan terkait.







