STAR-NEWS.ID Seni – 23 karya seni rupa dari empat seniman Bali dipamerkan dalam pameran bertajuk Vernal Artistic di Santrian Art Gallery Sanur pada 8 Mei 2026.
Dari puluhan karya yang dipamerkan terdapat beberapa lukisan yang dikemas dalam bentuk panel, yakni gabungan dari beberapa lukisan yang merupakan satu narasi atau cerita.
Kurator Pameran Made Susanta Dwitanaya menjelaskan, kehadiran konsep panel dalam karya seni lukis umum terjadi. Selain lebih bersifat artistik, panel dalam seni lukis juga menghadirkan karya yang berisifat instalatif.
“Tdak hanya lukisan satu bidang, tapi ada berbagai macam juga secara gagasan itu nyambung gitu,” kata Made Susanta di Santrian Art Gallery Sanur, Jumat, 8 Mei 2026.
Dikatakan sang kurator, dalam pembuatan seni lukis panel, para seniman telah menyiapkan narasi yang berkesinambungan dalam satu alur cerita.
“Teman – tenan ketika akan membuat karya panel itu sudah mempersiapkan sebenarnya, ini narasi yang akan dibawakan tentang apa, keterkaitan antara satu karya dan yang lainnya seperti apa gitu,” jelasnya.
Secara komposisi panel karya lukis mempunyai display yang berbeda. Ada yang formal menghadirkan tiga panel sejajar atau disebut triptych .
“Ada yang bersifat acak untuk menghadirkan persepsi, untuk menghadirkan sensasi bagaimana kita melihat karya itu,” kata Made Susanta.
Pameran bertajuk Vernal Artistic yang menggambarkan musim semi artistik itu menganalogikan proses para seniman dalam berpameran.
Salah satu seniman yang memarkan karya seni lukis panel I Gede Sugiada mengatakan, pameran lukisan Vernal Artistic yang menampilkan karya kolaborasi empat perupa di Bali, menjadi ruang validasi terhadap transformasi dirinya selama lima tahun terakhir.
Selain memamerkan karya lukisan panel, Gede Sugianda juga membuat karya lukis diatas kanvas berukutan besar dengan pilihan warna cerah.
‘Kalau dari kekaryaan hampir sama konsepnya satu, tentang perjalanan saya sendiri sebagai seniman dan kehidupan saya di sekitar sayalah, keseharian saya, tentang polemik yang ada dalam diri saya sendiri di kehidupan saya sehari-hari,” jelas Sugianda.
Pencarian artistik serta evaluasi setiap karya dan gagasan yang telah dilalui, menghasilkan karakter baru yang segar, hangat dan penuh semangat. Keberanian mengeksplorasi warna-warna cerah menggambarkan elemen gambar yang imajinatif.
“Ketika saya berproses saya ingin menghilangkan image saya yang magis, emosional, atau ketakutan menjadi kebahagiaan. Dengan transformasi ini, saya ingin mengajak penikmat seni rupa ikut masuk ke dalamnya,” kata Gede Sugiada
Menurutnya, selama lima tahun terakhir ini bagi Sugiada, menjadi masa krusial hingga berhasil merombak kebiasaan dan pakem melukisnya.
Dalam pameran lukisan yang berlangsung hingga Juni 2026 itu, Gede Sugiada ingin menunjukkan transformasi dari karya-karya terbaru yang dihadirkan.
“Bagi saya kalau ada lukisan saya yang terjual itu hanya bonus. Tapi yang paling penting, penikmat seni rupa memahami transformasi karya saya dan menerimanya,” ujarnya.
Keberanian I Gede Sugiada terlihat dalam karyanya berjudul ‘Tentang Perjalanan’ di atas kanvas berukuran 185×160 cm. Dia mengatakan, lukisan cat minyak itu adalah gambaran perjalanan hidupnya.
Eksplorasi warna yang jarang digunakan, berani ia torehkan di atas kanvas. Seperti warna pink, ungu, hijau daun menyatu dalam kisah ‘Tentang Perjalanan’.
“Dulu saya tidak bermain warna, cenderung warna gelap, hitam dan coklat. Tapi kritikan muncul dari penggemar seni asal Jepang, dia suka lukisan saya tapi ketika bangun pagi justru semangatnya hilang melihat lukisan saya,” jelasnya.
“Ini tahun pertama saya tampil dengan karya baru,” tambahnya.
Empat perupa dalam pameran ‘Vernal Artistic’ itu yakni, Putu Edi Asparanggi, I Gede Sugiada atau Anduk, Ida Bagus Suryantara ‘Koh’ dan Dewa Gede Agung.







