Memasuki Musim Tanam, Manajemen DTW Jatiluwih Salurkan 22,8 Ton Pupuk ke 7 Tempek Subak

STAR-NEWS.ID Nasional – Untuk menjaga ketahanan pangan dan kelestarian pertanian berkelanjutan, manajemen operasional DTW Jatiluwih menyalurkan 22,8 Ton Pupuk kepada petani yang tergabung dalam 7 Tempek Subak di Jatiluwih.

Musim tanam pertama di bulan Januari 2026, dimulai pada 30 Desember 2025 – 6 Januari 2026

Manajer Operasional DTW Jatiluwih John Ketut Purna menyampaikan, penyaluran pupuk untuk memastikan ketersediaan nutrisi tanaman yang optimal demi menjaga kualitas beras merah khas Jatiluwih yang telah mendunia.

“Total luasan lahan yang mendapatkan bantuan mencapai 227,41 hektar,” jelas John, Minggu, 11 Januari 2026.

Dalam penyaluran pupuk tahun ini, pihak manajemen mengambil kebijakan khusus dengan memberikan tambahan volume pupuk sebagai bentuk apresiasi kepada petani.

“Kami ingin memastikan petani memiliki cadangan yang cukup, sehingga setiap Tempek kami berikan kelebihan pupuk sebesar 10 kilogram dari perhitungan standar luasan mereka,” jelasnya.

Berdasarkan kebijakan tambahan tersebut, total pupuk yang diserahkan oleh DTW Jatiluwih mencapai angka 22.811 ton.

Distribusi jumlah pupuk ini dilakukan secara transparan dan proporsional berdasarkan perhitungan luas wilayah masing-masing Tempek.

Hal ini dilakukan agar seluruh petani mendapatkan hak yang adil sesuai dengan besaran lahan yang mereka kelola pada musim tanam Januari ini.

Secara rinci, penyaluran dilakukan kepada tujuh Tempek dengan dengan jumlah umum 1 kilo per are, dengan rincian, Subak Gunung Sari dengan 4,859 Ton , Subak Kedamaian 2,216 ton, dan Subak Besikalung 3,763 ton .

Selanjutnya, Subak Kesambi 1,396 ton , Subak Umakayu 2,204 ton, Subak Telabah Gede yang merupakan yakni 6,51 ton, serta Subak Umaduwi 1,863 ton .

“Pemberian bantuan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari sinergi antara sektor pariwisata dan pertanian,” kata John.

Sebagai kawasan Warisan Budaya Dunia UNESCO, Jatiluwih sangat bergantung pada keberlangsungan sistem Subak.

“Pariwisata di sini ada karena petani masih tetap menjaga warisan leluhur berupa sawah yang di kerjakan secara alami dan tradisional . Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban manajemen untuk mendukung penuh kebutuhan sarana produksi mereka, terutama pupuk di awal musim tanam seperti sekarang,” imbuhnya.

Dengan penyerahan pupuk, diharapan agar hasil panen di periode pertama tahun 2026 dapat melimpah. Dengan dukungan kuat dari manajemen, Jatiluwih optimis dapat mempertahankan eksistensinya sebagai lumbung pangan sekaligus destinasi wisata hijau utama di Bali.

Follow and share Google News