STAR-NEWS.ID Culture – Daun lontar merupakan media alat tulis yang hingga saat ini masih digunakan di Bali. Sebagai upaya untuk melestarikan dan menjaga dan menyebarkan budaya warisan leluhur ini, PT Bali Turtle Island Development (BTID) menggelar Festival Lontar dan Aksara Bali, di Kampus UID Kura Kura Bali pada Jumat, 27 Februari 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta, yang terdiri dari perwakilan 20 pelajar tingkat SMP-SMA di Kecamatan Denpasar Selatan dan 20 peserta dari kategori umum.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Ida Bagus Suryana mengatakan Bulan Bahasa Bali merupakan festival untuk membumikan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, bahasa Bali bukan saja menjadi bagian dari tradisi sosial di Pulau Dewata, tapi juga mengandung ruh dalam kegiatan sehari-hari masyarakat.
“Ketika bayi lahir, untuk pertama kalinya orangtua akan melafalkan kalimat berbahasa Bali. Itulah untuk pertama kalinya anak diperkenalkan dengan Bahasa Ibu,” kata Suryana di Denpasar, Jumat, 27 Februari 2026.
Suryana menjelaskan, sektor pariwisata berkelanjutan harus tetap mengedepankan kearifan lokal.
“Bagaimana Kura Kura Bali ini sangat peduli dengan budaya Bali. Ada konservasi lontar juga. Jadi, ini bukan hanya pariwisata, tetapi juga turut melakukan pelestarian budaya,” imbuhnya.
Workshop penulisan aksara Bali di atas daun lontar juga memberikan pengalaman bagi peserta yang mayoritas generasi muda. Nyurat aksara Bali itu menjadi wadah kolaborasi yang menyatukan tradisi dan kebudayaan dan ruang kreatif bagi kerajinan lokal.
Nuansa budaya semakin kental saat peserta melangkah masuk ke Abode Bali. Di rumah seni-budaya ini, deretan barang antik peninggalan leluhur Bali tersusun rapi dan terawat dengan apik.
Ida Bagus Alit tampak terkesan dan menyebut KEK Kura Kura Bali turut serta menjaga dan memelihara peninggalan sejarah budaya Bali.
Usai menjelajahi koleksi di Abode Bali, para peserta langsung diajak mempraktikkan seni menulis aksara di atas daun lontar yang telah disediakan.
Miranda, salah satu peserta dari kategori umum, mengaku sangat terkesan dengan pengalaman ini karena dapat memperluas wawasannya tentang budaya Bali.
“Keren banget ya, bravo untuk Kura Kura Bali. Saya sebagai peserta beruntung sekali karena banyak pengetahuan yang bisa didapatkan di sini. Mulai dari sejarah Bali, mengunjungi mini museum, hingga menulis aksara Bali seperti ini,” kata Miranda.
Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, berharap ke depannya kegiatan ini bisa berdampak dan menjangkau semakin banyak peserta.
“Untuk workshop aksara dan lontar ini, karena memang baru pertama kami lakukan, kami batasi di 40 peserta. Mungkin di tahun depan bisa lebih banyak lagi, bahkan se-Denpasar Selatan, jadi dampaknya bisa lebih besar lagi,” kata Zefri.
Zefri Alfaruqy menambahkan, perayaan Bulan Bahasa Bali di KEK Kura Kura juga diisi dengan Island Bazaar, di UID Bali Campus selama dua hari.
“Bazar budaya ini menampilkan kuliner, kerajinan seperti pembuatan manik-manik, kalung dan kerajinan lainnya. Kita berharap tahun depan jangkauannya lebih luas lagi,” kata Zefri.
Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di tingkat Provinsi diikuti oleh 1.200 peserta. Berbagai lomba yang digelar secara online bukan saja diikuti oleh peserta dari Bali saja.
Namun juga diikuti oleh peserta dari wilayah Lombok Nusa Tenggara Barat, DIY, hingga Sulawesi. Mereka mengikuti lomba penulisan berbahasa Bali.
Workshop Aksara Bali dan Konservasi Lontar serta Island Bazar diharapkan bisa menjadi upaya pelestarian Budaya yang diwariskan oleh leluhur.







