STAR-NEWS.ID Seni – Sastrawan asal Bali Oka Rusmini merilis buku terbarunya berjudul Kembang. Buku ini sebagai pertanda pendewasaan bagi Oka dalam menyuarakan isu perempuan dan penyintas peristiwa sejarah 1965.
Proses penulisan buku berjudul Kembang dipicu oleh perjumpaan emosional Oka dengan film dokumenter You and I pada 2020 karya Fanny Chotimah. Film tersebut merekam kehidupan masa tua dua perempuan Kusdalini dan Kaminah yang merupakan penyintas 1965.
Selain itu, penulisan buku ini juga diperkaya oleh dokumenter A Secret Love, buku foto Pemenang Kehidupan, serta berbagai riset akademis.
Dalam karya ini, Oka mengangkat pendekata microhistory untuk memotret trauma berlapis yang dihadapi perempuan penyintas, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan seksual, hingga beban stigma sosial yang memaksa mereka bertahan hidup dalam ruang domestik.
Menurut Oki, membicarakan sejarah1965 berarti membangkitkan kembali ingatan tentang penghancuran martabat. Diam menjadi perisai agar publik tidak kembali menguliti kehidupan yang susah payah mereka bangun.
“Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya menggugat keheningan negara atas trauma sejarah,” kata Oka, di Denpasar, Selasa, 21 Juli 2026.
Secara estetik, Oka mengusung gaya Mistisisme-Domestik dengan membenturkan simbol keindahan seperti bunga dengan realitas keras kehidupan sehari-hari. Penulis juga menerapkan teknik tipografi huruf kecil (all-lowercase) secara menyeluruh untuk memberi ruang bagi aliran kesadaran yang lebih terbuka dan demokratis.
Melalui Kembang, Oka Rusmini merebut kembali kedaulatan memori yang disenyapkan. Oka membuktikan, sastra adalah instrumen keadilan. Di saat pengadilan hukum formal kerap menemui jalan buntu, buku ini menawarkan rekonsiliasi kultural, ritual penyucian sejarah yang mengembalikan martabat penyintas 1965 di masa senjanya.







