Festival Bambu di Samsara Living Museum, Implementasi Manfaat Bambu dalam Kepercayaan Adat dan Budaya Bali

STAR-NEWS.ID Lifestyle – Samsara Living Museum yang berada di lereng gunung Agung Karangasem menjadi lokasi Festival Bambu yang digelar selama 3 hari sejak 22-24 Mei 2026.

Pemandangan alam yang indah dan alami semakin menarik perhatian pengunjung festival lantaran adanya berbagai instalasi bambu yang dibuat oleh masyarakat.

Co Founder Samsara Living Museum Ida Bagus Agung Gunartawa mengatakan, Festival Bambu yang bekerja sama dengan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari sebagai model dan implementasi manfaat bambu yang memiliki peran sentral dalam kepercayaan adat budaya dan tradisi masyarakat Bali.

“Bambu sendiri sebenarnya punya peran yang sangat strategis dengan setidaknya lima dimensi ya. Mulai dari dimensi spiritual, budaya, sosial, lingkungan, sampai ekonomi, yang menurut kami dengan kita source begitu banyak, harusnya ini bisa menjadi sesuatu yang sangat berdampak,” kata Agung Gunartawa di Kawasan Samsara Living Museum, Karangasem, Bali, Sabtu, 23 Mei 2026.

Menurutnya, peran bambu dalam siklus masyarakat Bali terjadi di sepanjang kehidupanya, dari lahir hingga akhir kehidupan. Kehadiran bambu selalu mengisi aktifitas ritual masyarakat hindu di Pulau Dewata.

“Memang kami ingin di event ini kemudian terjaring ekosistem daripada bambu itu sendiri,” ujarnya.

Gunartawa menambahkan, Samsara Bamboo Festival merangkum berbagai kegiatan di antaranya, workshop, entertainment yang menampilkan kegiatan budaya, tarian dan alat musik Jegog asal Kabupaten Jembrana.

“Bamboo show yang ada di sini semua terkurasi dengan sembilan karya yang lolos dan dipamerkan. Ini merepresentasikan, betapa bambu ketika disentuh dengan kreativitas akan menjadi apa saja,” jelasnya.

Head of program Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Nurul Firmansyah mengatakan, festival yang digelar sekaligus mengingatkan bahwa saat ini Bali mengalami defisit tanaman bambu. Kebutuhan bambu di Bali justru didatangkan dari wilayah luar Bali.

Kalau Bali mengalami defisit tanaman bambu, artinya ini menjadi pengingat untuk kembali menanam dan melestarikannya,” kata Nurul.

Dikatakan Nurul, dalam satu rumpun bambu, mampu menyimpan 3.000 liter air.

“Salah satu titik pentingnya adalah budidaya bambu. Nah, budidaya bambu ini perlu ditingkatkan agar bambu ini tidak hanya dipungut, tapi juga dibibitkan, ditanam, dan dipelihara,” jelasnya.

Dalam dimensi ekonomi, kata Nurul, tanaman bambu merupakan masa depan kehidupan sebagai sumber material hijau. Tanaman bambu menurutnya, juga menjadi material konstruksi yang dekat dengan budaya masyarakat Bali.

Salah satu wisatawan asing asal Czech Republic Katerina Kotarova mengaku, meskipun baru pertama kali datang berlibur ke Pulau Dewata, ia merasa beruntung bisa melihat Festival Bambu yang menampilkan berbagai instalasi bambu, kerajinan, hingga tradisi dan seni buadaya masyarakat Bali.

“Oh, it’s really nice. And we are happy to be here. And so, yeah, it’s very exciting for us because we don’t know this culture and it’s very nice,”kata Katerina.

Menurutnya, dengan penggunaan bambu dalam kehidupan bisa mengurangi penggunaan plastik.

“I thought The products, what you made in the tent, they are very-very nice and i think it’s very good too use product from nature, because it’s more natural, you safe product from plastic for example, so it’s more ecologic and i appreciate that a lot of architects and craftsmakers made this from bamboo,”ujarnya.

Festival Bambu juga sebagai pengingat pelestarian bambu yang keberlanjutan akan berdampak pada pemerataan ekonomi masyarakat. Termasuk, keberlanjutan terhadap pelestarian lingkungan.

Sementara, Samsara Living Museum sendiri lokasinya hanya berjarak 10 km dari puncak Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali.

Musium kebudayaan yang hidup itu, berhasil meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia dari Kementerian Kebudayaan. Serta, meraih Wonderful Indonesia Award dari Kementerian Pariwisata untuk kategori daya tarik wisata terbaik nasional.

Follow and share Google News