Ritual Wali, Siklus Ekologis dalam Budidaya Kopi Arabika Organik di Kintamani

STAR-NEWS.ID Inspirasi – Bagi sebagian masyarakat, kopi bukan hanya sekadar minuman, tetapi selain tradisi yang bisa dijaga, kopi juga mengkoneksikan manusia di belahan bumi satu dan belahan bumi lainya.

Menanam dan merawat perkebunan kopi hingga menjadikan kopi sebuah minuman, merupakan kearifan lokal yang sejak lama diwariskan secara turun temurun.

Bagi masyarakat Kintamani, tanaman kopi sebagai jembatan yang menghubungkan warisan leluhur, kelestarian alam dan spiritualitas yang mendalam.

Pola tananam kopi yang dilakukan tak hanya menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi, akan tetapi juga menjadi benteng pertahanan ekologis yang relevan di tengah isu perubahan iklim global saat ini.

Dimensi yang paling membedakan budidaya kopi Kintamani dengan wilayah lainnya yakni, keterikatannya yang kuat pada adat, budaya dan spiritualitas Bali.

Salah satu petani kopi Arabika Organik di Desa Catur, Kintamani I Made Sukayana mengatakan, selain mendapat edukasi tentang pertanian moderen dari Coop Coffee Foundation, salah satu pilar utama untuk merawat perkebunan kopi yang ia tekuni adalah ritual Wali, sebuah rangkaian upacara sakral yang mengiringi setiap tahapan kehidupan pohon kopi.

Meskipun membudidayakan perkebunan kopi organik moderen bersama Coop Coffee Foundation, petani kopi di Desa Catur tetap menjaga kearifan lokal yang sejak lama diwariskan secara turun temurun.

“Biasanya kita punya budaya di sini Wali. Wali itu adalah salah satu ritual atau yang kita lakukan setiap, biasanya setiap tahun itu, dan itu semua ada rentetannya. Pada saat kita memanen kopi, memanen benih, menanam kopi, memelihara kopi dan itu semua ada ritual-ritual yang kita jaga,” kata I Made Sukayana,di Kebun Kopi Arabika Organik di Desa Catur Kintamani, Rabu, 9 Juli 2026.

Kopi Arabika organik di Kintamani – Foto: Star-News.id

Meski awalnya dijalankan sebagai bentuk kepatuhan terhadap tradisi, pemaknaan mendalam kini mulai tumbuh kembali.

“Tapi setelah saya pelajari, setelah saya gali-gali, saya ketemu. Oh ternyata musim, dari musim panen sampai pasca panen semua ada ritual yang kita lakukan dan masih terjaga ritualnya, tetapi pemaknaannya mungkin orang sudah semakin sedikit yang paham akan keberadaan itu,” ujarnya.

Ritual Wali mencakup doa-doa keselamatan dan ungkapan syukur yang komprehensif, mulai dari tahap memanen buah, menyortir benih terbaik, menanam bibit baru ke dalam tanah, hingga pemeliharaan sehari-hari.

Melalui ritual ini, petani senantiasa meminta izin kepada Ibu Pertiwi atau alam semesta sebelum mengambil hasil bumi.

“Misalnya pembibitan, dalam ritual itu ya sebenarnya izin ke Ibu Pertiwi, izin untuk mengambil benihnya, akan ditumbuhkan kembali,” imbuhnya.

Sementara itu, sisa sampah organik bekas upacara atau ritual Wali juga diolah untuk dimanfaatkan sabagai pupuk kompos yang digunakan untuk memupuk tanaman kopi di kebunnya.

Hubungan timbal balik yang harmonis ini menciptakan ikatan emosional dan spiritual yang kuat antara petani, tanaman kopi dan tanah tempat mereka berpijak.

Follow and share Google News