Mengubah Limbah Kopi Arabika Organik Jadi Produk Ekonomi Bernilai Tinggi

STAR-NEWS ID Inspirasi – Berada di ketinggian antara 1.240 hingga 1.260 meter di atas permukaan laut (mdpl), Desa Catur, Kintamani menyediakan iklim mikro yang sempurna untuk mengembangkan jenis kopi Arabika.

Salah satu Petani Kopi Arabika organik Kintamani I Made Sukayana mengatakan beberapa varietas unggul yang telah resmi terdaftar pada Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) di Kintamani antara lain, varietas S795, USDA, kopyol dan Kartika Cobra.

Made Sukayana mengungkapkan, kopi merupakan tanaman yang membutuhkan tanaman peneduh atau shadow trees. Untuk itu, ia melakukan sistem tumpang sari antara kopi dengan pohon lainya yang lebih tinggi untuk melindungi kopi dan memberikan kualitas dan rasa yang sempurna dari kopi Arabika yang dibudidayakan.

Akan tetapi, lantaran cuaca yang sering kali tidak menentu, para petani lokal menerapkan strategi pemangkasan berkala.

Sebelum musim berbunga dan menjelang panen, dahan-dahan pohon pelindung yang terlalu tinggi akan dipotong untuk memberikan intensitas cahaya yang pas bagi pohon kopi. Setelah kopi berbuah, pohon pelindung akan dibiarkan untuk tumbuh lebih tinggi lagi.

“Jadi ya karena kopi memang salah satu tanaman yang butuh shadow atau butuh tanaman peneduh, namun di sini karena cuaca kurang bagus, saya tetap siasati pada saat musim, sebelum musim panen sampai musim berbunga, saya potong kayu-kayu yang lebih tinggi,” kata Made Sukayana, di perkebunan kopi di Desa Catur, Kintamani, pada Rabu, 9 Juli 2026.

Made Sukayana menjelaskan, daun-daun pohon pelindung dimanfaatkan untuk kompos yang bisa digunakan untuk memupuk tanama kopinya. Sementara potongan dahan kayu yang lebih besar dibakar untuk dijadikan arang biochar sebagai penyubur tanah alami.

“Jadi setiap potong, daun-daun jadi kompos, dahannya jadi kayu bakar, jadi kayu bakar ini kami pakai juga untuk membakar, untuk bikin biochar,” jelasnya.

Perkebunan Kopi Arabika di Desa Catur, Kintamani – Foto: Star-News. id

Tak hanya itu, di bawah pendampingan Coop Coffee Foundation, petani kopi organik seperti Made Sukayana diberikan edukasi untuk melakukan waste management atau pengolahan limbah kopi organik, sehingga memberikan multiple effect baginya.

Menurut pria yang hobi menekuni pertanian kopi moderen ini, limbah kopi organik mulai dari bunga, daun hingga kulit buah kopi diolah menjadi barang bermanfaat dengan nilai tinggi, seperti untuk kesehatan.

“Limbahnya ini dari limbah kopi, dari kulit kopi yang kami harusnya buang bisa jadi barang bermanfaat dan nilainya sangat tinggi, dan punya manfaat untuk kesehatan juga. Terus, pada saat kami lakukan pruning, daunnya juga kami pakai untuk teh. Bunganya, setelah bunga itu jadi buah, kami panen juga untuk jadi teh,” kata Made.

Sementara,limbah yang tidak bisa dimanfaatkan untuk kesehatan akan diolah menjadi biochar.

“Terus kalau limbah yang mungkin tidak bisa dipakai teh atau limbah-limbah yang sedikit rusak, kami bisa jadikan biochar. Jadi bikin arang dari kulit kopi. Jadi ya di sini kami dapatkan multiple effect dari apa yang kami lakukan,” kata Made.

Program Manager Coop Coffee Foundation Sascha Poespo mengungkapkan,melakukan pendekatan secara personal kepada petani kopi merupakan peranan penting untuk mempermudah edukasi terkait waste management atau pengolahan limbah kopi di Kintamani.

Pendekatan dilakukan agar para petani lebih aware bahwa limbah dari kopi bisa diolah lebih baik agar bisa bermanfaat untuk kopi itu sendiri.

“Untuk memanfaatkan limbah kopi yang baik dan memiliki multiple effect untuk petani, maka kita melakukan pendekatan secara pribadi ke masing-masing petani,” jelas Sascha.

Ia menambahkan, jika petani kopi telah sadar dan bisa mengolah limbah kopi dengan baik, budidaya kopi di Desa Catur, Kintamani dipastikan bisa menghasilkan biji kopi organik dengan kualitas terbaik.

Follow and share Google News