Penglipuran Village Festival Ke-13: Menjaga Roh Budaya untuk Pariwisata Berkelanjutan

STAR-NEWS.ID Culture – Desa wisata Penglipuran yang berlokasi di Kabupaten Bangli, Bali kembali menggelar Penglipuran Village Festival yang ke-13 pada, Kamis, 9 Juni 2026.

Festival yang mengusung tema Harmoni Bumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif ini menyajikan berbagai atraksi budaya, musik hingga pameran UMKM lokal.

Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran yang juga sebagai Ketua BUPDA Desa Adat Penglipuran I Wayan Sumiarsa menegaskan, melalui Penglipuran Village Festival ke-13 pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat

“Bagi kami, budaya bukan sekadar daya tarik wisata, melainkan roh yang menghidupi Desa Wisata Penglipuran. Selama budaya tetap dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya, pariwisata akan tumbuh secara berkelanjutan tanpa kehilangan jati dirinya,” jelas Wayan Sumiarsa, Jumat, 10 Juli 2026.

Ia menambhakan, festival kali ini bukan hanya menghadirkan pengalaman budaya yang autentik bagi wisatawan, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi pelaku UMKM lokal, seniman, kelompok masyarakat, serta desa-desa penyangga yang tumbuh dan berkembang bersama ekosistem pariwisata Penglipuran.

“Kami meyakini bahwa keberhasilan sebuah desa wisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari sejauh mana manfaat pariwisata dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat. Ketika budaya menjadi fondasi, masyarakat menjadi pelaku utama, dan ekonomi lokal tumbuh bersama, maka di situlah pariwisata berkelanjutan benar-benar terwujud,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi VII Samuel Wattimena mengatakan, melalui Penglipuran Frstival Village 2026, local wisdom yang dimiliki oleh masyarakat Desa Penglipuran disosialisasikan agar keindahan kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun dikenal oleh masyarakat luar bahkan dunia.

Menurutnya, budaya atau tradisi seperti penempatan warga yang melanggar aturan terkait poligami di Karang Madu, yang dimiliki oleh Desa merupakan aturan atau tatanan yang harus dijaga dan disosialisasikan.

“Karang Memadu, jadi itu area yang diperuntukkan bagi mereka yang menyalahi, melanggar aturan menyangkut poligami. Nah, ini kan sebetulnya local wisdom yang menurut saya perlu sekali kita sosialisasikan sehingga masyarakat nusantara maupun masyarakat dunia paham bahwa kita di Bali dan di Indonesia ini memiliki local wisdom yang sudah kita ketahui,” jelas Samuel Wattimena, di Desa Penglipuran, Kamis, 9 Juli 2026.

Ia menambahkan, dengan local wisdom yang di miliki oleh masyarakat, Desa Penglipuran menjadi indah dan mampu menjadi daya tarik wisata dunia yang memberikan multiplier effect kepada warga.

“Karena desa ini menjadi indah, desa ini menjadi bermanfaat adalah karena local wisdom yang dimiliki oleh desa ini. Dan local wisdom ini yang menurut saya harus bersamaan dipublikasikan dengan keindahan dan gaya hidup masyarakat di Penglipuran ini,” ujarnya.

Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dwi Marhen Yono menyebut, beberapa hasil survei internasional, paradigma wisatawan yang berkunjung ke Indonesia telah berubah.

Sebelumnya wisatawan berkunjung lantaran, Indonesia memiliki keindahan alam yang mimikat para wisatawan untuk berkunjung, akan tetapi, saat ini, alasan wisatawan berkunjung ke Indonesia lantaran memiliki budaya atau culture yang berbeda dengan negara lain.

“Sehingga budaya Bali itu sangat luar biasa, itu yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Kalau dulu kita ke Uluwatu hanya sekali tampil tari kecak, sekarang karena permintaan pasar dua kali. Ini culture,” jelas Marhen.

Melaui Festival Penglipuran yang menampilkan berbagai atraksi budaya, Marhen berharap bisa menjadi ajang promosi untuk terus mengenalkan kearifan lokal yang dimiliki oleh Desa Terbersih di Dunia ini.

Follow and share Google News