STAR-NEWS.ID Culture – Suasana Hari Raya Galungan di Desa Wisata Penglipuran, Bali kali ini terasa berbeda dari perayaan sebelumnya, yang umumnya jalanan desa dipenuhi dengan hiasan penjor-penjor sakral yang menjulang tinggi ke angkasa.
Akan tetapi, moment Galungan dan Kuningan kali ini dilewati tanpa adanya pemasangan penjor sakral serta beberapa ritual perayaan penting lainnya, lantaran desa terbersih di dunia ini sedang berkabung atas meninggalnya salah satu warga desa.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran I Wayan Sumiarsa saat dikonfirmasi tim Star-News.Id melalui sambungan telpon pribadi pada Rabu, 17 Juni 2026.
Sumi menyebut, sebelum salah warga tersebut meninggal, pihak muda-mudi desa sempat memasang tiga penjor. Sesuai tradisi, penjor yang sudah terlanjur berdiri tetap dibiarkan dan tidak dibongkar. Akan tetapi, pemasangan penjor baru untuk sisa area desa langsung dihentikan.
Keputusan untuk tidak memasang penjor, merupakan bagian dari ditiadakannya kegiatan yang bersifat sakral selama masa berkabung.
Di Desa Penglipuran, masa kedukaan bagi seluruh warga desa berlangsung selama tiga hari, sementara bagi keluarga yang ditinggalkan berlangsung selama tujuh hari.
“Penjor ini pada saat Hari Raya Galungan ini kan merupakan penjor yang sifatnya sakral, bukan yang konvensional yang seperti penjor untuk kegiatan-kegiatan lainnya. Ini adalah penjor yang sifatnya sakral, sehingga semua kegiatan-kegiatan yang sifatnya sakral di desa kami tidak dipasang,” jelas Sumi.
Ia menambahkan, meskipun masa berkabung di Desa Pemglipuran telah selesai, akan tetapi penjor-penjor sakral tidak dipasang hingga Hari Raya Galungan dan Kuningan berikutnya.
“Penjor sakral ini akan terpasang lagi pada momen Galungan Kuningan berikutnya di tahun 2027,” kata Sumi.
Sementara itu, selain penjor, tradisi sakral atau ritual saat Galungan yang ditiadakan antara lain, persembahyangan bersama, yang merupakan ritual ibadah bersama bagi seluruh warga Penglipuran di Pura Desa.
Selain itu, Tradisi Ngerebeg yang merupakan ritual adat tahunan yang biasanya memeriahkan hari raya juga ditiadakan.
Tradisi Pulang Kampung Warga Menikah yakni, warga asli Penglipuran yang sudah menikah ke luar desa biasanya akan pulang untuk bersembahyang di pura desa saat Galungan. Namun, karena desa sedang berkabung, ritual mudik religi ini juga tidak dapat dilaksanakan.
“Yang tidak kalah penting itu, untuk misalnya ada warga Penglipuran yang menikah ke luar desa, kalau momen Galungan itu kan mereka biasanya akan pulang, melakukan persembahyangan di rumah keluarganya atau di Pura desanya. Hanya karena ini sifatnya sakral, karena Penglipuran masih berkabung, jadinya mereka juga tidak akan bisa melakukan persembahyangan juga ke Penglipuran,” jelasnya.
Meskipun Desa Penglipuran sedang berkabung dan tidak ada perayaan Galungan dengan barisan penjor sakral di jalan desa, kondisi ini tidak menyurutkan minat wisatawan untuk berkunjungan ke desa wisata terbersih di dunia.
“Antusiasme wisatawan tetap tidak terbendung. Banyak wisatawan mancanegara maupun nusantara yang bahkan sudah memesan penginapan homestay jauh-jauh hari untuk menyaksikan momen Galungan di Penglipuran,” ujarnya.
Jumlah kunjungan wisatawan pada momen Galungan cukup tinggi. Dalam periode satu jam mulai pukul 08.00-09.00 WITA kunjungan mencapai 300 orang wisatawan domestik dan mancanegara. Angka ini terdiri dari sekitar 100 wisatawan mancanegara dan 200 wisatawan nusantara.
Jika dibandingkan dengan data hari biasa di jam yang sama yang rata-rata hanya berkisar di angka 200-an pengunjung, terjadi kenaikan kunjungan hingga hampir 100%.
“Angka kunjungan itu tidak dapat dicapai pada hari normal. Kemarin dalam periode yang sama maksimal kunjungan di angka 200 an orang,” ujarnya.







