STAR-NEWS.ID Bisnis – Gubernur Bali Wayan Koster menyebut, Bali memiliki potensi besar dalam karbon pertanian. Sekitar 52.909 hektare sawah telah menerapkan sistem pertanian organik, atau sekitar 82 persen dari total sawah, yang menjadi modal penting dalam pengembangan soil carbon dan biodiversity credits.
“Aset tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan fungsi ekosistem dalam menyerap karbon,” kata Koster saatvpembukaan Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026 yang di gelar di Nusa Dua, Bali pada 8 September 2026.
Peran Coop Coffee Indonesia dalam Ekonomi Berbasis Karbon dan Biodiversitas
Sekitar 24.000 hektar tanaman agroforestri kopi di Desa Catur diprediksi berpotensi menghasilkan karbondioksida alam yang bermanfaat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Karbon dapat diserap dan disimpan dari berbagai sumber di kebun kopi. Semakin terkelola dengan baik, semakin besar keuntungan untuk petani, lingkungan dan masa depan.
Untuk itu, PT Koop Kopi Indonesia melalui Coop Coffee Foundation memberikan edukasi dasar mengenai karbon kepada petani kopi perempuan Desa Catur, termasuk pengenalan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), pentingnya karbon bagi pertanian, perhitungan karbon secara manual dari area kebun kopi, penggunaan teknologi hingga pemanfaatan pupuk organik.
CEO PT Koop Kopi Indonesia, Reza Fabianus mengatakan, peran konkrit Coop Coffee Indonesia berada pada tahap origination dan implementation menerjemahkan konsep karbon dan keberlanjutan menjadi aksi nyata di tingkat kebun dan komunitas petani kopi.
“Coop Coffee Indonesia bekerja dari sumbernya, yaitu lanskap kopi dan masyarakat yang mengelolanya, dengan membangun kapasitas petani, mengembangkan –praktik
pertanian yang lebih berkelanjutan, menghubungkan pengetahuan lokal dengan teknologi, serta memastikan bahwa perubahan di tingkat lahan dapat terdokumentasi dan terukur,” jelas Reza.
Dalam model ini, perempuan petani kopi menjadi salah satu aktor utama. PT Koop Kopi Indonesia melalui program pemberdayaannya lewat entitas Coop Coffee Foundation, tidak ingin menempatkan perempuan hanya sebagai penerima manfaat dari program pemberdayaan.
Pendekatan Coop Coffee Indonesia juga melihat bahwa karbon tidak dapat dipisahkan dari biodiversitas dan mata pencaharian.
“Sebuah kebun kopi yang sehat bukan hanya kebun yang
mampu menyerap karbon, tetapi juga kebun yang memiliki ekosistem yang beragam, tanah dan air yang terjaga, produktivitas yang baik, serta mampu memberikan penghidupan yang lebih kuat bagi keluarga petani,” ujarnya.
Untuk itu, implementasi di lapangan diarahkan untuk melihat carbon, biodiversity, dan livelihoods sebagai satu kesatuan. Praktik pertanian, keberadaan pohon penaung, kondisi tanah, produktivitas kopi, biodiversitas, serta peran masyarakat menjadi bagian dari sebuah lanskap
yang saling terhubung.
Petani Perempuan Kopi Kintamani Kembangkan Ekonomi Karbon Lewat Budi Daya Organik
Reza Fabianus mengatakan, Project Kintamani yang tengah dijalankan saat ini merupakan solusi berbasis alam yang dikembangkan oleh petani kopi untuk menghasilkan ekonomi karbon berkuaitas, dengan beralih ke penanaman organik yang memanfaatkan limbah di sekitar.
Petani perempuan Kopi Arabika Kintamani Ni Wayan Srianti mengatakan, pola organik sudah dijalankan sejak setahun terakhir. Hasilnya cukup memuaskan. Buah kopi menjadi lebih tebal dan daun jarang menguning.
“Kualitas buah yang lebih tebal juga mempengaruhi berat, jadi hasil panennya lebih bagus,” kata Srianti yang biasa disapa ibu Ole.
Pupuk organik yang digunakan juga diproduksi sendiri dengan bahan-bahan yang diambil dari sisa tanaman kebun kopi. Serta, limbah organik sisa metabolisme hewan ternak seperti ayam dan sapi.
“Setelah dilakukan dekomposer, dalam waktu dua puluh satu hari pupuk sudah bisa digunakan, lebih lama engga apa juga,” kata Ni Wayan Srianti.
Potensi Bali Kembangkan Ekosistem Karbon dan Biodiversitas
Chairman Indonesia Carbon Credit and Biodiversity Alliance (ICCBA) Rob Raffael Kardinal mengungkapkan, Bali memiliki potensi besar sebagai salah satu contoh pengembangan ekonomi berbasis karbon dan biodiversitas yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi.
Berbagai potensi seperti mangrove, padang lamun, pertanian organik, energi terbarukan dan kawasan hutan dapat dikembangkan melalui kolaborasi multipihak dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dan manfaat bagi masyarakat.
“Bali memiliki sesuatu yang sangat kuat, yaitu kombinasi antara alam, budaya, kebijakan, dan masyarakat. Ini menjadi modal penting untuk membangun ekosistem karbon dan biodiversitas yang kredibel,” kata Rob Raffael, di Nusa Dua, Selasa, 8 September 2026.
Rob menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, investor, lembaga standar, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk memastikan potensi tersebut dapat diwujudkan menjadi proyek yang konkret, terukur dan memiliki standar yang dapat diterima secara internasional.
“Harapannya, apa yang dikembangkan di Bali dapat menjadi model yang tidak hanya bermanfaat bagi Bali dan Indonesia, tetapi juga dapat direplikasi di berbagai wilayah dan negara lain,” ujaranya.







