STAR-NEWS.ID Bisnis – PT Bali Turtle Island Development (BTID), pengembang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, menghadirkan ruang dialog dan apresiasi budaya melalui kegiatan Book Talk & Workshop Canang di Sunset Mandala, Sira Village, pada Kamis, 5 November 2026.
Menghadirkan fotografer dan penulis buku Erin Sogan serta budayawan Bali I Komang Indra Wirawan, kegiatan ini mengajak masyarakat dan wisatawan memahami makna filosofis, nilai estetika, serta peran canang dalam kehidupan dan tradisi masyarakat Bali.
Kata canang sendiri berasal dari Bahasa Jawa Kuno/Kawi, yaitu can yang berarti indah dan nang yang berarti tujuan. Sedangkan sari berarti inti atau sari.
Dalam tradisi Hindu Bali, Canang bukan sekadar kerajinan tangan dari janur dan bunga, melainkan sarana yadnya (korban suci persembahan) yang paling dasar dan dilakukan setiap hari.
Selain diskusi mendalam mengenai makna teologis dan filosofis canang, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pertunjukan tari tradisional dari Oemah Seni serta hands-on workshop pembuatan canang secara langsung yang dipandu oleh ibu-ibu PKK dari Desa Serangan.
Kepala Departemen Komunikasi PT Bali Turtle Island Development (BTID), Zefri Alfaruqy menyampaikan, penyelenggaraan acara ini menjadi langkah nyata pengembang kawasan untuk merawat keberlanjutan tradisi dan identitas budaya Bali di tengah arus modernisasi.
“Bagi kami, pembangunan kawasan tidak hanya berbicara mengenai pengembangan infrastruktur dan fasilitas, tetapi juga bagaimana memastikan nilai-nilai budaya dan identitas lokal tetap menjadi bagian penting dari pertumbuhan kawasan,” kata Jefri.
Menurutnya, Bali memiliki warisan budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan lintas generasi.
“Karena itu, kami percaya bahwa pembangunan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang kita bangun, tetapi juga tentang apa yang kita jaga,” ujarnya.
Ia menambahkan, melalui kegiatan Book Talk & Workshop Canang, pihaknya mengjadirkan ruang interaksi yang mengajak msyarakat lokal, pengunjung dan wisatawan mengenal serta mengapresiasi budaya Bali secara lebih dekat
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting, sehingga pelestarian budaya tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga hadir melalui pengalaman dan partisipasi langsung.
Dalam sesi bedah buku, I Komang Indra Wirawan memaparkan pentingnya memberikan ruang edukasi yang inklusif agar tradisi Bali tetap dipahami oleh semua generasi, khususnya generasi muda saat ini.
Komang menjelaskan, Canang merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Hindu yang ada di Bali. Jika dilihat dari perspektif teologinya, Canang memiliki sebuah nilai dan makna berupa simbol-simbol dari keberadaan atau simbol Tuhan.
“Dalam konsep panca dewata itu ada warna-warna yang dihadirkan. Kalau dilihat darinsegi nilai estetika, bahwa Canang itu memiliki sebuah nilai estetika seni yang sangat luar biasa,” kata Komang Indra Wirawan.
Komang juga turut memberikan apresiasi kepada PT BTID selaku pengembang KEK Kura Kura Bali dan Sira Village, atas inisiatif dan kepeduliannya dalam melestarikan kebudayaan lokal.
“Saya, selaku generasi muda, sangat berterima kasih. Semoga orang Bali tidak lupa dengan budayanya sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Fotografer sekaligus pwnulis buku ‘Apa Itu Canang?’ Erin Sogan, turut membagikan awal mula rasa penasarannya mendokumentasikan canang dari sudut pandangnya sebagai seorang pendatang.
“Mungkin alasan yang pertama adalah karena aku bisa menemukan ini dimana-mana. Letaknya itu menjadi question mark bagi aku. Kenapa ya ada canang di motor, di mobil, di stall toko, di kulkas gitu,” kata Erin.
Ia juga menyambut antusias ruang dialog dan kolaborasi lintas budaya yang dihadirkan dalam acara ini.
“Kita tahu di Bali banyak banget pendatang. Bukan hanya orang Bali saja, tapi orang dari seluruh Indonesia ada di Bali, mungkin berharap ketika bisa ikut acara kayak gini, bisabkenal, apa sih sebenarnya canang itu? Artinya apa? Sehingga kita bisa menghormati kebudayaan di mana kita tinggal juga,” jelasnya.
Pengalaman berinteraksi dan praktik langsung dengan budaya Bali ini mendapatkan sambutan positif dari para peserta, termasuk Nadya wisatawan lokal, dan Loannis wisatawan asal Yunani, yang turut berpartisipasi dalam acara tersebut.
“Menurut saya bagus karena kita jadinya mengerti bagaimana ini (canang) tercipta,nkarena saat kita duduk, di jalan, di rumah ada tapi kita tidak tahu apa artinya. Ya, karenandi villa kami kita melihatnya setiap hari tapi kita tidak mengerti kenapa, apa filosofinya,napa maknanya,” kata Nadya.
BTID berharap Sira Village dapat terus berkembang sebagai ruang yang tidak hanya menghadirkan pengalaman berbelanja dan rekreasi, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat dan pengunjung untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Bali.
Inisiatif ini sekaligus mencerminkan komitmen KEK Kura Kura Bali untuk mengintegrasikan nilai-nilai lokal, keterlibatan masyarakat, dan pengembangan kawasan secara berkelanjutan.







