STAR-NEWS.ID Seni – Seniman asal Bali Handy Saputra menggelar pameran tunggal di Santrian Art Gallery Sanur mulai Jumat, 7 November hingga 30 Desember 2026.
Pameran bertajuk Dialogue Between The Moon dan Its Halo menampilkan 23 karya seni lukis dan 2 patung.
Kurator pameran Muhammad Bundhowi menjelaskan, lukisan Handy Saputra cenderung menampilkan image liar, brutal, naive dan kekanak-kanakan bahkan di luar pakem seni rupa. Akan tetapi, lukisan yang dianggap art brute atau Outsider Art memiliki alamnya sendiri dan justru beresonansi dengan kelompok seniman Cobra.
“Setelah saya membaca karya Handy secara teliti pada-pada karyanyanya yang tampil pada pameran kali ini, muncul kekhasan-kekhasan visual yang baru,” kata Muhammad saat pembukaan pameran di Santrian Art Gallery Sanur pada Jumat, 7 November 2026.
Meskipun kebanyakan karya Handy secara visual menampakkan sosok tumpang tindih tanpa kehadiran dimensi dan perspektif lukisan akademis, namun di beberapa karya tidak hanya mereflesikan peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang naïve, tetapi juga merefleksikan peristiwa humoris, tragis bahkan mengandung tema-tema filosofis, sosial kultural Bali.
“Dalam beberapa karya saya bahkan melihat referensi visual yang seperti Tri Hita Karana yang kerap muncul di karya- karya seni Bali dalam berbagai gayanya. Sosok-sosok binatang misalnya burung, ular, ikan, serta binatang mistis dalam berbagai bentuk dan gayanya dalam kanvas Handy juga bisa dibaca sebagai simbol-simbol filosofi dengan artinya yang sangat mendalam,” jelasnya.
Muhammad menyebut, untuk membaca karya Handy, penikmat lukisan perlu memiliki metode yang tidak hanya mengandalkan mata untuk melihat karya secara lahiriah.
Sementara itu, Handy Saputra mengaku, puluhan lukisan yang tertuang dalam acrilic on canvas yang dioamerkan dalam Dialogue Between The Moon and Its Halo, menunjukan proses penciptaan setiap karyanya.
“Ini merupakan kejujuran daripada hasil karya saya. Disini memang kalau dilihat dari perjalanannya dari pameran pertama, kedua, ketiga itu, objeknya tetap sama, ada figur-figur yang abstrak, figur-figur yang mistis, yang tidak berbentuk,” jelas Handy.
23 karya seni lukis yang dihadirkan pada pameran tunggalnya ini, selain warna monokrom juga mengeksplorasi warna-warna cerah.
“Sebenarnya lebih banyak warna cerah. Monokromnya, ada berapa Saja, ada dua tiga yang ditampilkan sekarang,” ujarnya.
Sebelumnya, Handy Saputra juga menggelar pameran tunggal bertajuk Audacity of the Silent Places di Rumah Sanur pada 2020 dan The Dragonfly Ripples di Sika Gallery pada 2025.







