Bukan Sekedar Narasi Promosi, Menpar Dorong Gastronomi di BBTF 2026 Jadi Produk Wisata Kelas Dunia

STAR-NEWS ID Bisnis – Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 menempatkan gastronomi sebagai salah satu wajah penting pariwisata Indonesia.

Melalui tema Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and Sustainable Heritage, BBTF 2026 tidak hanya berbicara tentang makanan, akan tetapi tentang bagaimana rasa, budaya, sejarah, dan keberlanjutan dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang bernilai.

Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, tema gastronomi dalam BBTF 2026 menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat diferensiasi di pasar global.

“Gastronomi Indonesia tidak boleh berhenti sebagai narasi promosi, tetapi harus dikembangkan menjadi produk wisata yang terstruktur dan dapat dijual,” tegas Menpar Widiyanti, Jumat, 29 Mei 2026.

Kementerian Pariwisata juga telah mendorong Wonderful Indonesia Gourmet sebagai flagship program untuk menumbuhkan wisata gastronomi dan memperkuat positioning kuliner Indonesia.

Melalui Travex, pertemuan buyers dan sellers, serta program post-tour, BBTF 2026 memberi ruang bagi gastronomi Indonesia untuk bergerak dari sekadar promosi menjadi peluang bisnis.

“Kemenpar mendorong industri untuk mengembangkan lebih banyak produk gastronomi yang terkurasi, seperti spice routes, kunjungan pasar, kelas memasak, heritage dining, pengalaman kuliner desa, kolaborasi chef, coffee and cacao trails, farm-to-table, serta sea-to-table experiences,” jelasnya.

Semangat tersebut terasa sejak malam pembukaan BBTF 2026 melalui konsep Megibung Nusantara Culinary, sebuah pengalaman makan bersama yang merayakan kekayaan kuliner Indonesia.

Ragam hidangan nusantara dan pilihan makanan penutup Indonesia dipresentasikan oleh Marriott Bonvoy dan The Westin Resort Nusa Dua, Bali, menghadirkan cita rasa lokal dalam kemasan yang elegan.

Dalam pengalaman tersebut, kekayaan rasa Indonesia tampil melalui berbagai sajian, mulai dari Seblak Bandung yang merepresentasikan energi street food perkotaan Jawa Barat, hingga Nasi Campur Bali yang memadukan identitas kuliner Bali dengan ragam inspirasi rasa dari berbagai daerah Indonesia.

Kehadiran hidangan ini menunjukkan bahwa gastronomi Indonesia dapat bergerak lentur – dari tradisi, street food, hingga interpretasi modern yang tetap berpijak pada akar budaya.

Gastronomy juga diperkuat oleh kekayaan minumnan produk lokal Bali dan Indonesia. Arak Karangasem, minuman tradisional Bali, hadir menemani suasana makan malam sebagai bagian dari warisan rasa pulau ini.

Sebagai bagian dari pengalaman tersebut, Matahari cocktail turut diperkenalkan dengan inspirasi dari semangat tropis Bali. Perpaduan tangerine, passion fruit, dan arak Bali lokal menghadirkan rasa yang segar, cerah, dan uplifting, sekaligus menampilkan minuman tradisional Bali dalam interpretasi yang modern dan elegan.

Sementara itu, Sababay Winery memperkenalkan wine yang diproduksi secara lokal di Bali, sebuah artisan wine dari winery yang dipimpin perempuan, dengan pendekatan yang terinspirasi dari filosofi Prancis vin de garage.

Kehadiran Sababay menunjukkan bahwa Bali tidak hanya memiliki budaya dan alam, tetapi juga kemampuan menghasilkan produk wine yang memiliki karakter, cerita, dan kebanggaan lokal.

Pengalaman gastronomi juga dilengkapi oleh cita rasa lainnya, seperti cokelat Jembrana, Jungle Pod, serta Kopi Akasa Kintamani, yang masing-masing membawa cerita tentang tanah, petani, proses produksi, dan identitas daerah.

Kehadiran produk-produk ini memperlihatkan bahwa gastronomi Indonesia tidak berdiri sendiri sebagai hidangan, tetapi sebagai ekosistem yang menghubungkan petani, produsen, komunitas, pelaku hospitality, dan destinasi.

Gastronomi menjadi bahasa universal yang mudah dipahami pasar global. Di balik sebuah hidangan, terdapat cerita tentang tanah, laut, rempah, tradisi, keluarga, upacara, komunitas, dan cara hidup masyarakat setempat. Inilah kekuatan Indonesia.

Dengan ribuan pulau dan keragaman budaya yang sangat luas, Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang tidak hanya menarik untuk dicicipi, tetapi juga layak dikembangkan sebagai produk wisata yang terstruktur dan dapat dijual.

Di BBTF 2026, gastronomi diposisikan sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi secara lebih mendalam. Bali tidak hanya hadir melalui keindahan alam dan budayanya, tetapi juga melalui kekayaan rasa yang hidup dalam tradisi, upacara, desa, pasar, dapur keluarga, hingga meja makan modern.

Di luar Bali, semangat Bali and Beyond juga membuka ruang bagi destinasi lain di berbagai daerah di nusantara untuk memperlihatkan identitas kuliner mereka sebagai bagian dari daya tarik wisata.

Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika wisatawan global tidak lagi hanya mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi pengalaman yang bermakna.

“Buyer ataupun seller ingin mengetahui asal-usul makanan, bertemu dengan komunitas lokal, belajar memasak, mencicipi produk daerah, memahami rempah, dan membawa pulang cerita yang lebih personal dari sebuah perjalanan,” ucapnya.

Ketua Panitia BBTF 2026 Putu Winastra mengatakan, gastronomi bukan hanya tentang apa yang disajikan di atas piring. Gastronomi adalah cara Indonesia menceritakan dirinya kepada dunia – melalui rasa, budaya, keramahan, dan keberlanjutan.

“Di BBTF 2026, pesan itu menjadi jelas: Indonesia tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi juga kaya untuk dirasakan, dipelajari, dan dialami,” kata Putu Winastra.

Dalam konteks tema gastronomi, BBTF 2026 menampilkan kekayaan destinasi kuliner dan budaya dari berbagai daerah.

Dalam BBTF tqhun ini, 12 provinsi menampilkan cerita kuliner mulai dari Bali, Jakarta, Yogjakarta, jawa Tengah, Jawa Timu, kepulauan Bangka Belitung, kepulauan Riau, Lombok/NTB, NTT, Sulawesi Utara, Papua dan Lampung

“Narasi rempah dan kuliner nusantara yang memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi gastronomi berbasis budaya dan pengalaman lokal.” I Putu Winastra

Follow and share Google News