Deretan Penjor Megah Hiasi Desa Serangan Sambut Pujawali Hari Raya Galungan Kuningan di Pura Dalem Sakenan

STAR-NEWS.ID Culture – Menjelang Pujawali Hari Raya Galungan dan Kuningan di Pura Dalem Sakenan,sederet penjor raksasa yang menjulang timggi ke angkasa menghiasi kawasan Desa Serangan.

Mengusung semangat pelestarian budaya, penjor-penjor sakral itu berjejer dalam rangkaian pelaksanaan Festival Penjor Desa Serangan yang memasuki tahun ke-3.

Kesuksesan perhelatan ini menjadi wujud dari sinergi yang terus dibangun antara PT Bali Turtle Island Development (BTID) selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali dan Yowana (pemuda-pemudi) dari banjar adat Desa Serangan.

Kreasi Penjor dari Banjar Dukuh, Peken, Ponjok, Kawan, dan Kaja tidak hanya memukau secara estetika, tetapi juga teguh memegang pakem filosofis yang melambangkan ungkapan rasa syukur dan kemakmuran kepada alam semesta.

Ketua Sekeha Teruna Teruni (STT) Satya Hredhaya, Banjar Dukuh, Desa Adat Serangan Ni Kadek Nani Purnama Dewi mengatakan, penjor yang dibuat berjudul ‘Kewangen’ atau sesuatu yang harum.

“Proses pembuatannya sudah dimulai di pertengahan bulan April hingga bulan Juni ini, menuju hari raya Kuningan,” kata Nani, Ranu, 243 Juni 2026.

Ia menjelaskan, makna Kewangen dari penjor tersebut merepresentasikan persembahan yang terdiri dari enam warna berbeda. Setiap warna mengandung makna filosofi.

Selain itu, penjor yang dibuat harus mengacu ketentuan lomba, setinggi 10 meter di atas tanah dan pangkal bambu yang ditanam sedalam 1 meter.

“Untuk biaya pembuatan kami menghabiskan di atas Rp8 juta,” ujarnya.

Penjor yang dibuat bukan sekedar indah tapi berfungsi sebagai sarana upakara. Karena itu, kata Nani, harus ada kelengkapan hasil bumi seperti pala bungkah, jenis umbi-umbian yang tumbuh di dalam tanah hingga padi.

Pelaksanaan Festival Penjor tahun ini bertepatan dengan upacara suci Puja Wali Pura Dalem Sakenan.

Jro Bendesa Desa Adat Serangan I Nyoman Gede Pariatha mengatakan, yowana Desa Serangan benar-benar menunjukkan kesungguhan mereka dalam mengadakan hingga mengikuti lomba Penjor tersebut.

“Jadi mereka betul-betul ingin menampilkan kebolehannya dalam festival ini, betul-betul bagaimana mereka ingin menunjukkan yang terbaik. Persiapannya juga cukup lama ya, ada yang sebulan, ada yang dua bulan, sudah ada bambunya di banjar masing-masing, sudah ada persiapannya,” kata Gede Pariatha.

Mengenai kolaborasi kegiatan ini dengan BTID, Gede Pariatha mengungkapkan, sebelumnya, festival penjor di Desa Serangan merupakan agenda yang diinisiasi dan selenggarakan oleh PT BTID, akan tetapi saat ini penyelenggaraan festival berkolaborasi dengan Desa Adat Serangan.

“Awalnya ini kan BTID sebagai penyelenggara awal, yang punya inisiatif, jadi kita di desa adat ya mendorong dan mendukung termasuk pendanaan dari desa adat kemarin. Jadi kita di desa adat dari awal, dana operasional kita dukung di situ,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy mengatakan, pelibatan yowana dari Desa Serangan sebagai panitia festival penjor ini merupakan salah satu upaya BTID dalam memberdayakan dan membantu mengasah kreativitas para muda-mudi untuk mengembangkan kemampuan dalam berorganisasi.

“Melihat dedikasi dan hasil kerja keras teman-teman Yowana hari ini, rasanya sungguh terharu dan membanggakan. Festival ini menjadi panggung pembuktian kreativitas mereka, sekaligus merupakan salah satu wujud aplikatif dari program Creative Event Management Lab yang dirancang KEK Kura Kura Bali bersama dengan UID Bali Campus,” jelas Zefri.

Inisiatif ini mencakup berbagai perencanaan dan pengelolaan dalam penyelenggaraan suatu acara. Program ini digagas secara khusus untuk berkolaborasi dengan pemudapemudi Desa Serangan dalam rangka mengembangkan potensinya sebagai Desa Wisata perintis.

“Kami berharap kehadiran KEK Kura Kura Bali bisa terus tumbuh berdampingan dengan masyarakat. Harapan terbesarnya, bekal pengalaman langsung ini bisa menjadi fondasi agar generasi muda siap berdiri secara mandiri, dan menjadi tuan rumah yang berdaya di desanya,” imbuhnya.

Di sisi lain, untuk menjaga objektivitas penilaian, event ini melibatkan 3 juri yang berasal dari 3 unsur, yakni dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, praktisi seni dari Ubud, dan Desa Kesiman.

Setelah melalui proses kurasi dan penilaian yang profesional, ST. Panca Yasa dari Banjar Ponjok akhirnya berhasil keluar sebagai peraih Juara Pertama, sementara itu, posisi Juara Kedua diraih oleh ST. Hredaya dari Banjar Dukuh dan Juara Ketiga ditempati oleh ST. Satya Witra dari Banjar Kawan.

Membawa semangat kemenangan Dharma, perhelatan ini sukses menjadi simpul penyatu yang mengikat erat kreativitas generasi muda, nilai spiritual, dan sinergi ekosistem yang inklusif di Desa Serangan.

Follow and share Google News