STAR-NEWS.ID Health – Untuk mengatasi keterbatasan akses layanan di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), BPJS Kesehatan menghadirkan Virtual Office Layanan Informasi dan Administrasi (Viola) dan layanan jemput bola BPJS Keliling.
Viola merupakan kanal layanan tanpa tatap muka berbasis video conference yang menghubungkan masyarakat dengan petugas BPJS Kesehatan secara real time, untuk pengurusan administrasi kepesertaan JKN, informasi, dan penanganan pengaduan.
Dalam pelaksanaannya, BPJS Kesehatan berkoordinasi dengan stakeholders di daerah 3T, untuk memfasilitasi video conference di fasilitas kesehatan, kantor desa/kelurahan/kecamatan, sekolah, dan tempat lainnya.
Selama Januari-Mei 2026, terdapat 218.729 pemanfaatan Viola. Lokasi pelaksanaan Violaterbanyak dilakukan di Puskesmas, sementara jenis layanan yang paling banyak dimanfaatkan yakni, layanan informasi dan perubahan data Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
Adapun segmen peserta JKN yang paling banyak memanfaatkan Viola adalah peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK).
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito menjelaskan, tidak semua wilayah di Indonesia mampu mengadopsi layanan digital karena berbagai alasan, seperti keterbatasan jarkomdat, kondisi geografis, dan belum semua lapisan masyarakat familier dengan teknologi digital.
Untuk itu, selain menggalakkan kanal digital, BPJS Kesehatan juga mengoptimalkan layanan jemput bola BPJS Keliling.
Optimalisasi Viola dan BPJS Keliling tersebut merupakan wujud implementasi Layanan Ujung Negeri (Lanuri), salah satu dari Quick Wins 100 Hari Kerja Direksi BPJS Kesehatan.
“Layanan tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengakses informasi, mengurus administrasi, hingga menyampaikan aduan seputar JKN,” kata Pujo saat launching Layanan Ujung Negeri (Lanuri) dan Closing Quick Wins 100 Hari Kerja Direksi, Senin, 13 Juli 2026.
Lanuri serentak dilaksanakan di 558 titik kabupaten/kota se-Indonesia, dengan melibatkan 126 Kantor Cabang BPJS Kesehatan.
Dari ke-558 titik tersebut, sebanyak 179 titik menyediakan layanan BPJS Keliling, sementara di 379 titik lainnya menghadirkan layanan Viola.
“Harapan kami, Lanuari dapat memudahkan akses layanan JKN bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil atau aksesnya terbatas karena kondisi geografis,” ujar Pujo .
Pujo juga menyampaikan capaian Quick Wins 100 Hari Kerja Direksi BPJS Kesehatan yang menyentuh angka 91,53 %. Quick Wins tersebut terdiri atas 4 Program Customer Centric dan 4 Program Collaborative.
Program Customer Centric dikembangkan secara khusus untuk mengakomodir kebutuhan fundamental peserta JKN yang dirumuskan dengan menjaring aspirasi masyarakat.
Sementara, secara paralel, BPJS Kesehatan juga menjalankan Program Collaborative untuk memperluas jangkauan layanan terintegrasi, sehingga melibatkan sinergi dengan berbagai stakeholders dalam implementasinya
“Adapun beberapa program utama yang telah tercapai adalah JKN 3T, kerja sama dengan kapal bantu rumah sakit ke daerah 3T serta pengiriman tenaga kesehatan ke daerah 3T.
P-Care MBG, yakni petugas SPPG menjadi peserta JKN dan terpantau kesehatannya, serta tumbuh kembang siswa penerima MBG terpantau.
Eliminasi Inefisiensi merupakan intelligence claim untuk upaya efisiensi biaya JKN, serta pencegahan, pendeteksian, dan penanganan perilaku inefisiensi termasuk potensi fraud.
“Ada pula sejumlah poin yang masih terus berproses bersama pemangku kepentingan terkait,” jelas Pujo.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Usaha Koperasi Kementerian Koperasi, Panel Barus mengapresiasi inisiatif BPJS Kesehatan dalam memperluas akses JKN bagi masyarakat 3T.
Menurutnya, kehadiran layanan Viola dan BPJS Keliling ini merupakan terobosan yang mampu mendekatkan layanan administrasi JKN bagi masyarakat yang masih mengalami keterbatasan transportasi ataupun infrastruktur digital.
“Kami akan mendorong jajaran pengurus Koperasi di daerah 3T untuk mendukung pelaksanaan Lanuri sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh masyarakat Indonesia,” kata Panel Barus.
Sementara, Kepala Pusat Kesehatan TNI, dr. Hadi Juanda mengatakan, pemerataan layanan kesehatan menjadi salah satu tantangan Indonesia, terutama di wilayah 3T yang masih mengalami keterbatasan akses, infrastruktur dan sumber daya manusia.
Jaringan pelayanan kesehatan TNI yang tersebar dapat dimanfaatkan untuk mendukung Lanuri, misalnya mobilisasi personil di bidang kesehatan ke daerah terpencil, pemanfaatan fasilitas kesehatan TNI sebagai titik layanan tambahan, serta pengoperasian kapal rumah sakit yang bisa digunakan untuk layanan di pulau-pulau terpencil.
“Termasuk dengan mengerahkan sekitar 76.000 personil Babinsa yang tersebar di Indonesia,” kata Hadi.







