STAR-NEWS.ID Music – Ubud FolkFest 2026 kembali digelar di Biji World Ubud, Bali pada 14-15 Agustus 2026. Memasuki tahun kelima, Ubud FolkFest tidak hanya berfokus pada pertunjukan musik, tetapi juga mengajak pengunjung untuk melihat, mendengar, belajar, bermain, dan berinteraksi secara langsung dengan berbagai bentuk seni dan budaya.
Founder Ubud FolkFest yang juga sebagai Owner Biji World kata Ida Bagus Oka Genijaya mengatakan, Ubud FolkFest digelar lebih intimate dan dekat dengan pengunjung.
”Karena menjadi sesuatu yang more intimate, small place memori-nya lebih melekat. Jadi kita bisa berbaur dan berkomunikasi. Dan secara langsung, secara nyata, bisa merasakan tentang Ubud Folk itu sendiri,” kata Ida Bagus Oka Genijaya di saat konferensi pers di Biji World Ubud, Jumat, 14 Agustus 2026.
Menurutnya, memasuki tahun kelima Ubud FolkFest dijadikan sebagai kekuatan dan fondasi.
”Saya berharap tahun kelima ini menjadi momentum untuk kembali memperkuat akar yang benar bagi Ubud FolkFest,” ujarnya.
FolkFest sebagai Pesta Kerakyatan
Rizal Hadi yang juga sebagai Founder Ubud FolkFest mengatakan, Ubud FolkFest merupakan pesta rakyat yang dibuat di Ubud yang merangkul berbagai komunitas dan mempertemukan seni, musik serta budaya dalam satu ruang.
Menurutnya, folk tidak hanya berarti American folk music atau seseorang yang memainkan gitar akustik. Folk adalah rakyat yang tidak terbatas pada satu genre musik.
”Dalam program kami, musik yang sangat tradisional bisa bertemu dengan musik kontemporer. Ada selonding dari Bali, ada Tarawangsa dari Jawa Barat yang berakar kuat pada tradisi, kemudian ada Neo Nolin yang mengolah unsur tradisi melalui instrumen dan pendekatan yang berbeda. Ada jazz fusion, musik kontemporer, hingga hip-hop dari New Zealand. Semuanya bisa hadir dalam satu festival,” jelas Rizal.
“Yang menarik di Ubud FolkFest adalah bagaimana tradisi bisa bertemu dan berkembang menjadi bentuk-bentuk musik kontemporer. Ada karya-karya seperti Janger yang direpresentasikan kembali dalam pendekatan yang lebih moderen, misalnya melalui jazz. Ada juga Celtic music, hingga Iksan Skuter yang mungkin lebih dekat dengan pemahaman folk secara internasional, seorang musisi dengan gitar akustik, seperti tradisi singer, songwriter yang kita kenal melalui Bob Dylan,” imbuhnya.
Selama dua hari, festival akan menghadirkan 3 panggung musik, 1 art gallery, cultural performances, art workshops, kids activities, art market, record store, drum circle, serta berbagai aktivitas kreatif lainnya
”Jadi bagi kami, Ubud FolkFest adalah ruang tempat banyak hal bisa bertemu tradisi dan kontemporer, musik dan seni, kolaborasi dan gagasan. Justru dari pertemuan-pertemuan itulah kami berharap sesuatu yang baru bisa muncul,” kata Rizal.
Mengutamakan Kualitas dan Keaslian Karya
Di tengah maraknya festival musik yang hanya berpatokan pada jumlah followers atau popularitas musisi di layar kaca, Ubud FolkFest memilih jalan yang berbeda. Proses kurasi dilakukan secara ketat dan terstruktur untuk menjaga kualitas serta keaslian atau originality karya yang dibawakan.
“Yang terpenting bagi kami adalah quality over quantity,” jelas Rizal.
Rizal menyebut salah satu contoh musisi yang menjaga kualitas, potensial yang jarang tersorot media maupun televisi seperti Ali Kribo yang berasal dari Lombok. Ali Kribo telah melahirkan sekitar 70 album dengan kualitas musik yang potensial dan original.
“Kami ingin masyarakat percaya, setiap kali mereka datang ke Ubud FolkFest mereka tidak hanya mencari nama besar, tetapi yakin akan mendapatkan pertunjukan musik yang benar-benar berkualitas,” kata Rizal.
Deretan musisi dan kelompok yang akan tampil di Ubud FolkFest 2026 antara lain, Navicula, Iksan Skuter, Ary Juliyant, Anda Perdana, Catur Hari Wijaya & The Sound Nomads, Supa Kalulu, Managona (Taiwan), SUNZ (New Zealand), Tanya George (Australia), Orasare, Abink Ferry, WLBY, Tarawangsa, Nata Swara, Neo Nolin, Celticroom Bali, Aji Sang Aji, Kerta Art dan Pondok Pekak.







