STAR-NEWS.ID Tourism – Desa Wisata Penglipuran, di Kabupaten Bangli, Bali, yang dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia, terus berinovasi untuk memperkuat daya tarik wisatanya.
Tidak hanya mengandalkan pesona adat dan budaya yang kental, Desa Penglipuran kini mulai melirik potensi sport tourism yang mengusung konsep pariwisata masa depan yang berkelanjutan.
Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran Wayan Sumiarsa mengatakan, salah satu kegiatan sport tourism yang pertama kali digelar yakni, Penglipu Run 2026.
Kegiatan yang diikuti ratusan pelari dari Bali maupun luar Bali hingga wisatawan asing ini merupakan salah satu kegiatan untuk memperkuat destinasi wisata yang konsisten menjaga tradisi, budaya dan lingkungan alam di Desa Penglipuran, Bangli.
“Tujuan Fun Run untuk memperkenalkan atraksi tambahan yaitu hutan bambu, karena track yang dilalui salah satunya adalah hutan bambu. Sehingga hutan bambu akan semakin dikenal oleh masyarakat umum untuk tujuan wisata,” kata Sumiarsa usai gelaran Penglipu Run 2026, di Desa Penglipuran, Bangli, Minggu, 7 Juni 2026.
Tak hanya memperkenalkan budaya, Penglipu Run 2026 juga untuk membranding sport tourism di Desa Penglipuran dan mendongkrak ekonomi masyarakat.
Menurutnya, dengan diadakanya ajang lari Penglipu Run 2026, bisa memberikan dampak multiplier effect terutama dalam hal ekonomi dan keterlibatan warga.
“Para peserta dari luar Bali juga dapat kesempatan menikmati suasana Penglipuran malam hari. Akomodasi yang ada di Penglipuran ini full semua,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu warga Desa Penglipuran yang akrab disapa Ibu Bongkok mengatakan, penginapan yang disewakan selalu penuh jika di Desa Penglipuran mengadakan acara seperti festival, hari besar maupun Fun Run.
Ia pun mengaku, meskipun hanya memiliki beberapa kamar yang bisa disewakan, akan tetapi bisa membantu perekonomian keluarganya.
“Sangat banyak membantu, kerjaan ibu kan bukan kerjaan tetap, jadi pengianapan sangat membantu saya,” kata Bu Bongkok.
Biasanya tamu yang menginap berasal dari luar Bali, yang telah memesan jauh-jauh hari bahkan menyewa dadakan. Tamu yang menginap biasanya karena ingin menikmati suasana malam di Desa Penglipuran.







