STAR-NEWS.ID Tourism – Parade Gebogan dan Baleganjur di Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Pura Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali di Bedugul, Tabanan resmi ditutup pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Humas Ulun Danu Beratan I Made Sukarata mengatakan, selama pelaksanaan Parade Gebogan dan Baleganjur, berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan, terutama melalui travel agent dari Pulau Jawa.
“Dari tamu-tamu khususnya travel agent, maupun tamu reguler yang datang ke Ulun Danu itu dengan antusiasnya sebelum datang ke Ulun Danu, dia memastikan dulu apakah parade gebogan itu akan dilaksanakan hari ini atau tidak, menanyakan secara langsung.Tentunya kalau kita bilang ada, dia akan datang ke Ulun Danu. Nah, itulah artinya ada peningkatan dari apa yang kita lakukan di gebogan ini dengan kunjungan yang ada saat ini,” jelas Made Sukarata.
Ia menyebut, selama pelaksanaan Parade Gebogan dan Baleganjur, kunjungan wisatawan ke Ulun Danu Beratan meningkat hingga 12%, sedangkan wisatawan ke The Blooms meningkat hingga 60%.
“Karena wisatawan lokalnya banyak juga di satu sisi pengen menikmati permainan, juga pengen menikmati budayanya yang ditunjukkan di The Blooms ini,” kata Made Sukarata.
Made Sukarata menambahkan, selama festival atau pementasan gebokan, wisatawan yang berkunjung dilibatkan secara langsung untuk ikut membuat gebogan sebagai upaya untuk memperkenalkan budaya Bali.
Antusias Pemenang Parade Gebogan dan Baleganjur
Sebelumnya parade gebogan dan baleganjur yang diikuti oleh 1.500 peserta itu digelar secara bergilir hingga 9 Agustus 2026.
Salah satu peserta Parade Gebogan yang menjadi juara dalam festival, Prasyani mengaku senang saat dipanggil menjadi juara pertama. Ia mengungkapkan, saat festival pertama yang digelar di Ulun Danu Beratan gebogan yang diusung mengambil tema candi atau meru Pura Beratan di danau yang menjadi ikon pariwisata di kawasan Bedugul.
“Tema yang saya bawa pertama itu ikon Ulun Danu Beratan, yaitu adalah candi atau meru Pura Beratan yang ada di dalam danau. Yang tiang (saya-red) kias menjadi jaje uli. Jaje uli itu jajanan tradisional Bali yang tiang bentuk menjadi meru. Dan itu menggambarkan bahwa meru itu, taksunya Pura Ulun Danu Beratan dan itu hidup,” jelas Prasyani.
Pada festival kedua dirinya mengangkat ikonnya The Blooms Garden, merak dan stroberi. Ia membuat logo The Blooms Garden dari jaje uli dan jajanan kukus hijau.
“Logo The Blooms Garden yang tiang tata juga dari jaje uli putih dan jajanan jajanan kukus hijau yang tiang bentuk menjadi logo. Semuanya menonjolkan The Blooms Garden,”jelasnya.
Sementara itu, Bendesa Desa Adat Candi Kuning I Wayan Suardika mengatakan, pihaknya mengapresiasi tim baleganjur Gita Ring Hyang dari Seka Werdhi Yowana Wisesa yang memenangkan festival di kategori baleganjur secara berturut-turut dalam dua periode.
“Kami selaku bendesa adat cuma memotivasi, mendukung, mengarahkan, memfasilitasi semua kegiatannya bisa berjalan dengan lancar. Apalagi berturut-turut dua periode, jadinya 2 kali 2 tahun. Kami masih diberikan kepercayaan, mudah-mudahan nanti sampai yang ketiga kali,” ujar Wayan Suardika.
Suardika menjelaskan, baleganjur yang dipentaskan dalam festival kali ini berbeda dengan baleganjur untuk penyambutan atau upacara adat. Untuk parade, baleganjur diiringi dengan fragmen tari.
“Untuk parade ini memang lain dari yang lain. Kalau untuk undangan, kalau udah ada untuk acara upacara itu beda baleganjurnya, musiknya. Tampilannya pun beda, ini kan ada fragmen tarinya,” jelasnya.







