Hasilkan 800 Kilogram Sampah Orgnik Per Hari, Waterbom Mengolah Jadi Kompos untuk Kawasan Hijau

STAR-NEWS.ID Tourism – Destinas wisata wahana air Waterbom Bali menerapkan pengelolaan sampah berbasis sumber, pengolahan sampah organik secara internal, pengomposan, pemanfaatan kembali material hingga pengurangan residu yang dikirim ke TPA.

Pada 2025, Waterbom Bali mencatat sekitar 99,32% sampah berhasil dialihkan dari TPA, sehingga hanya sekitar 0,68% yang berakhir di TPA.

Sekitar 800 kilogram sampah organik berupa daun, ranting dan sisa makanan yang dihasilkan perharinya, diolah secara internal menjadi kompos dan dimanfaatkan kembali untuk kawasan hijau Waterbom.

CEO Waterbom Bali Sayan Gulino mengatakan, pengelolaan sampah merupakan bagian dari perjalanan Waterbom Bali menuju Net Zero Emission 2033, dengan target pengurangan 90% emisi gas rumah kaca Scope 1, 2 dan 3.

Upaya tersebut dilakukan secara terintegrasi melalui pengelolaan sampah, pemanfaatan energi terbarukan dan panel surya, efisiensi penggunaan air, penggunaan kembali air limbah yang telah diolah untuk irigasi serta berbagai langkah untuk mengurangi jejak lingkungan operasional.

“Dengan pendekatan tersebut, keberlanjutan tidak berhenti pada satu program lingkungan, tetapi menjadi bagian dari cara sebuah destinasi beroperasi,” kata Sayan Gulino, Jumat, 28 Agustus 2026.

Menuju Pariwisata Regeneratif

Upaya yang dilakukan Waterbom juga membuka perspektif yang lebih luas tentang masa depan pariwisata Bali, yang bergerak dari pariwisata berkelanjutan menuju Pariwisata
Regeneratif.

Pariwisata tidak cukup hanya berupaya mengurangi dampak negatif. Destinasi perlu bergerak lebih jauh dengan menciptakan dampak positif dan mengembalikan manfaat kepada alam, masyarakat, budaya, serta tempat di mana kegiatan pariwisata berkembang.

Semangat tersebut terlihat dalam filosofi Karmic Returns yang dijalankan Waterbom sejak 2016 dan memiliki kedekatan dengan nilai Tri Hita Karana, membangun keharmonisan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial-spiritual Bali.

“Jika industri pariwisata berkolaborasi, kita dapat meninggalkan Bali yang lebih baik bagi generasi mendatang,” ujar Sayan.

Dalam perspektif regeneratif, sampah bukan hanya persoalan yang harus diselesaikan.

Sampah dapat menjadi sumber daya, kompos kembali menyuburkan tanah, penggunaan air dan energi dibuat semakin efisien dan keberhasilan sebuah bisnis diharapkan turut memperkuat lingkungan serta masyarakat di sekitarnya.

Sabet Penghargaan Gubernur Bali

Pemerintah Provinsi Bali memberikan penghargaan kepada Waterbom Bali atas Penerapan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) dan Pemilahan Sampah Terbaik di Daya Tarik Wisata Tahun 2026.

Penghargaan tertanggal 14 Agustus 2026 tersebut diberikan melalui Piagam Penghargaan Gubernur Bali Nomor B.20.800.1.12.8/2570/SEKRET/DISPAR, yang ditandatangani oleh Gubernur Bali Wayan Koster.

Sayan Gulino mengatakan, penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan dorongan untuk terus memberikan manfaat yang lebih besar bagi Bali.

“Bali bukan sekadar tempat Waterbom menjalankan bisnis. Bali adalah rumah kami, dan menjaganya adalah tanggung jawab kami,” kata Sayan Gulino.

Sayan menambahkan, penghargaan yang diberikan menjadi motivasi untuk terus mengurangi sampah ke TPA, menggunakan kembali sumber daya dan menurunkan emisi dalam perjalanan menuju Net Zero Emission 2033.

Inspirasi untuk Destinasi Bali dan Indonesia

Penghargaan Pemprov Bali kepada Waterbom akan memiliki makna yang lebih besar apabila keberhasilan tersebut dapat menginspirasi dan direplikasi oleh hotel, restoran, beach club, pusat perbelanjaan, taman rekreasi dan berbagai destinasi lainnya.

Tidak semua destinasi harus memiliki teknologi atau fasilitas yang sama. Destinasi dengan volume sampah besar dapat mengembangkan pengolahan mandiri, sementara yang lebih kecil dapat berkolaborasi dengan desa adat, TPS3R, komunitas dan pelaku usaha.

Follow and share Google News